MEMAHAMI AKTIVITAS KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA VERBAL DAN NON VERBAL DALAM DAKWAH
Komunikasi antarbudaya merupakan istilah yang
mencakup arti umum dan menunjukkan pada komunikasi antara orang-orang yang
mempunyai latar belakang kebudayaan yang berbeda. Dalam perkembangannya, komunikasi antarbudaya sering kali disamakan
dengan komunikasi lintas budaya (cross cultural communication). Komunikasi lintasbudaya lebih memfokuskan pembahasannya
kepada membandingkan fenomena komunikasi dalam budaya-budaya berbeda.
Komunikasi antarbudaya (intercultural communication) adalah
proses pertukaran pikiran dan makna antara orang-orang berbeda budaya. Ketika
komunikasi terjadi antara orang-orang berbeda bangsa, kelompok ras, atau
komunitas bahasa, komunikasi tersebut disebut komunikasi antarbudaya.
Komunikasi antarbudaya pada dasarnya mengkaji bagaimana budaya berpengaruh
terhadap aktivitas komunikasi, apa
makna pesan verbal dan nonverbal menurut budaya-budaya bersangkutan, apa yang
layak dikomunikasikan, kapan dan bagaimana
cara mengkomunikasikannya (verbal nonverbal).
Aktivitas menurut kamus besar Indonesia
adalah keaktifan, kegiatan-kegiatan, kesibukan, atau bisa juga berarti kerja
atau salah satu kegiatan kerja yang dilaksanakan tiap bagian dalam tiap suatu
organisasi atau lembaga. Atau dapat diartikan sebagai segala bentuk keaktifan
dan kegiatan.
Komunikasi secara etimologi berasal dari kata communication yang
berarti pemberitahuan atau pertukaran pikiran dan communis yaitu sama, dalam
arti sama makna mengenai suatu hal. Menurut Harold Laswell, komunikasi
adalah proses yang menggambarkan siapa, mengatakan apa, dengan cara apa, kepada
siapa, dengan efek apa. Frista Armanda dalam kamus lengkap bahasa Indonesia
berpendapat komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita dua
orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami.
Menurut
Paulette J. Thomas, komunikasi verbal adalah penyampaian dan penerimaan
pesan dengan menggunakan bahasa
lisan dan tulisan. Komunikasi lisan adalah proses dimana seseorang berbicara
berinteraksi secara lisan dengan mendengar untuk mempengaruhi tingkah laku
penerima. Sedangkan komunikasi tulisan adalah penjelasan yang disampaikan oleh
guru tersebut disandikan dalam simbol-simbol yang dituliskan pada papan tulis, kertas atau tempat lain yang bisa dibaca. Sementara, lambang verbal merupakan semua
lambang yang digunakan untuk menjelaskan pesan-pesan dengan memanfaatkan
kata-kata (bahasa) sebagai maksud untuk menghasilkan sebuah arti sama yang
berada dalam pikiran pengirim, dengan menggunakan kata-kata yang merupakan
unsur-unsur dasar bahasa. Adapun kode komunikasi verbal dalam pemakaiannya menggunakan
bahasa, bahasa dapat didefinisikan seperangkat kata yang telah disusun secara
berstruktur sehingga inti kalimat yang mengandung arti.
Hambatan dalam interaksi komunikasi verbal yakni,
Polarisasi adalah kecenderungan melihat dunia dalam bentuk lawan kata dan
menguraikannya dengan bentuk ekstrim seperti baik atau buruk, positif atau
negatif, sehat arau sakit, pintar atau bodoh. Orientasi intensional, mengacu
pada kecenderungan dalam melihat manusia atau objek dan kejadian sesuai dengan
ciri yang melekat diri mereka. Kekacauan karena keliru menyimpulkan fakta
dangan membuat pernyataan-pernyataan yang belum diamati. Kesemuan. Evaluasi statis yakni ringkasan yang menyatakan tentang suatu
kejadian. Indiskriminasi adalah pemusatan
perhatian pada sekelompok orang bahwa masing-masing bersifat unik dan khas.
Menurut para ahli. Ada tiga teori sehingga orang bisa memiliki
kemampuan verbal.
1. Teori Operant Conditioning.
Adalah suatu proses penguatan
perilaku yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau
menghilang sesuai keinginan. Teori ini diteliti oleh Pavlov dan dikembangkan
oleh Burrhus Federic Skinner. Skinner berpendapat setiap
suatu tindakan yang telah dibuat ada konsekuensinya, penghargaan untuk tindakan
yang benar, hukuman untuk yang salah. Tindakan yang ingin mendapat penghargaan
akan menjadi suatu kebiasaan, dan secara tidak disadari kebiasaan lama akan
hilang.
2. Teori Kognitif
Jean Piaget terkenal dengan
teori kognitifnya yang berpengaruh penting terhadap perkembangan konsep
kecerdasan. Piaget menyatakan bahwa perkembangan kognitif bukan hanya hasil
kematangan organisme, bukan pula pengaruh lingkungan semata, melainkan hasil
interaksi diantara keduanya. Jean Piaget mengatakan bahwa anak dapat membangun
secara aktif dunia kognitif mereka sendiri, terdapat dua proses yang mendasari
perkembangan dunia individu yaitu pengorganisasian dan penyesuaian (adaptasi).
3. Teori Penengah
Teori penengah atau mediating
ini dipopulerkan oleh Charles Osgood. Teori ini menekankan bahwa manusia dalam
mengembangkan kemampuannya berbahasa, tidak saja bereaksi terhadap stimulus
(rangsangan) dari luar tetapi juga dipengaruhi oleh proses internal yang
terjadi dalam dirinya. Dalam hal ini respon (gerak balas) dan stimulus
(rangsangan) terjadi pada otak (organ) manusia. Menurut Osgood makna merupakan
hasil proses pembelajaran dan pengalaman seseorang yang merupakan suatu proses
penengah untuk melambangkan sesuatu.
Bahasa verbal dan non verbal memiliki sifat
yang holistik atau tidak dapat dipisahkan, dalam banyak tindakan bahasa non
verbal menjadi komplemen (pelengkap) bahasa verbal dengan kata lain bahasa non
verbal sebagai penjelas. Komunikasi non verbal adalah komunikasi yang
menggunakan bahasa isyarat atau bahasa diam (silent). Komunikasi non
verbal dapat juga diartikan yaitu komunikasi dengan menggunakan gejala yang
menyangkut dengan gerak-gerik (gestures), sikap (postures),
ekspresi wajah (facial expressions), pakaian yang bersifat
simbolik,isyarat dan gejala yang sama yang tidak menggunakan bahasa lisan dan
tulisan. Menurut Darwin dan Morris ada dua teori komunikasi non
verbal dalam pendekatan etologi. Teori pertama yaitu teoricumulative structure (struktur
stimulus), teori ini memfokuskan analisisnya pada makna
yang diasosiasikan dengan kinesic dan membahas mengenai makna yang berkaitan dengan gerak tubuh dan ekspresi wajah ketimbang struktur
perilaku. Teori kedua yaitu Action Theory (teori tindakan), teori ini
menekankan pada suatu pandangan mengenai kinesic
yang lebih didasarkan tindakan. Komunikasi
non verbal yang relevan dengan komunikasi antar budaya ada tiga aspek yaitu
perilaku non verbal atau bahasa diam, konsep waktu dan pengaturan ruang.
Menurut Willian G. Scoot yang mengutip pendapat Babcot
bahwa faktor yang mempengaruhi proses komunikasi, diantaranya:
1. The Act (Perbuatan), Perbuatan komunikasi menginginkan pemakaian
lambang-lambang yang dapat dimengerti secara baik. Pada
umumnya lambang-lambang tersebut dinyatakan dengan bahasa atau tanda-tanda lain
dalam keadaan tertentu.
2. The Scene (Adegan),
Adegan sebagai salah satu faktor dalam komunikasi ini menekankan hubungannya dengan lingkungan komunikasi.
Adegan ini menjelaskan apa yang dilakukan, simbol
apa yang digunakan, dan arti dari apa yang dikatakan.
3. The Agent (Pelaku), Individu-individu yang mengambil
bagian dalam hubungan komunikasi dinamakan pelaku-pelaku komunikasi. Pengirim
dan penerima yang terlibat dalam hubungan komunikasi ini adalah contoh dari
pelaku-pelaku komunikasi tersebut.
4. The Agency (Perantara), Alat-alat yang dibangun dalam
komunikasi dapat membangun terwujudnya perantara. Alat-alat itu selain dapat berwujud komunikasi lisan, tatap muka,
dapat juga alat komunikasi tertulis seperti surat perintah, memo, buletin,
nota, surat tugas dan lainnya yang sejenis.
5. The Purpose (Tujuan), Menurut Grace dalam buku Komunikasi
Administrasi dan Beberapa Faktor Penyebab Kegagalannya karangan Miftah Thoha,
ada 4 (empat) macam tujuan tersebut yaitu: Satu, Tujuan Fungsional (The
Fungsional Goals) ialah tujuan yang secara pokok bermanfaat untuk mencapai
tujuan-tujuan organisasi atau lembaga. Dua, Tujuan Manipulasi (The
Manipulative Goals) Tujuan ini dimaksudkan untuk menggerakkan orang-orang
yang mau menerima ide-ide yang disampaikan baik sesuai ataupun tidak dengan
nilai dan sikapnya sendiri. Ketiga, Tujuan ini bermaksud untuk menciptakan
tujuan-tujuan yang bersifat kreatif. Komunikasi ini dipergunakan untuk
memungkinkan seseorang mampu mengungkapkan perasaan tadi dalam kenyataan.
Keempat, Tujuan Keyakinan (The Confidence Goals) Tujuan ini bermaksud
untuk meyakinkan atau mengembangkan keyakinan orang-orang pada lingkungan. Faktor-faktor tersebut menjadi salah satu penentu dalam proses komunikasi.
KESIMPULAN
Dalam
berdakwah Komunikasi verbal dan non verbal sangatlah berkaitan sehingga menjadi
satu kesatuan yang seringkali ada. Aktivitas komunikasi verbal dapat berupa
lisan atau tulisan apabila dalam dakwah sendiri komunikasi verbal ini berupa
ceramah seorang dai dan pesan dakwah yang disampaikan melalui tulisan. Selain
itu, Komunikasi non verbal dalam berdakwah dapat sebagai pelengkap atau
penjelas seperti ketika seorang da'i dalam berdawkah, contohnya ketika seorang
da'i berceramah dengan menggunakan ekspresi wajah senang, sedih atau takut.
Pemahaman dalam aktivitas komunikasi lintas budaya baik verbal maupun non
verbal sangat penting dipahami bagi masyarakat terutama seorang pendakwah, karena
dapat mencapai kesusksesan dalam berdakwah.
REFERENSI
Abdul Karim, 2015, Komunikasi Antar
Budaya Di Era Modern, At-Tabsyir: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam,
Vol. 3, No. 2
Onong Uchjana
Effendi, Dinamika Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000), Cet.4,
hal. 3-4
Frista Armanda W.,
Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Lintas Media Jombang, hal. 596
Roudhonah, Ilmu
Komunikasi, (Jakarta: Kerja Sama Lembaga Penelitian UIN Jakarta dan Jakarta
Pers, 2007),
Cet. Ke-1, hal. 93
Hafied Cangara,
Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2003), Cet.Ke-4 hal.
99
Ratna
Wilis Dahar, Teori-teori Belajar dan Pembelajaran. (Jakarta: Erlangga, 2011). h. 56
Onong Uchjana
Effendi, Dimensi-dimensi Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004), Cet. Ke-4, hal.
28
Wahidah
Suryani, 2013, Komunikasi Antar Budaya Yang Efektif, Jurnal
Dakwah Tabligh, Vol. 14, No. 1
Link YouTube: https://youtu.be/dL-Q9dwMvAs
Komentar
Posting Komentar