MEMAHAMI BERDAKWAH DALAM POLA KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA


Dakwah kegiatan menyeru pada kebaikan, mengarahkan untuk keteraturan manusia. Dakwah menjadi tugas bersama dalam keteraturan sosial. Dalam berdakwah, Islam menekankan wata'awanu alal birri wattaqwa, yaitu bekerjasama antar masyarakat dalam segala hal yang membawa pada kebaikan dan menjauhkan dari keburukan. Rasulullah juga mengatakan bahwa orang islam adalah saudara, dalam bermasyarakat sebaiknya mampu bersatu agar terciptanya kesatuan dan kerukunan sehingga dapat dikatakan bahwa masyarakat sebagai satu bangunan yang kokoh. Kerukunan dapat menjadi bingkai perdamaian. Dalam bermasyarakat terdapat berbagai macam budaya, dalam hal ini kesadaran diri terhadap perbedaan antarbudaya sangatlah penting bagi setiap individu.

 

Pola Komunikasi Lintas Budaya

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dikemukakan bahwa dakwah adalah penyampaian dan pengembangan agama di masyarakat atau seruan untuk memeluk, mempelajari dan mengamalkan ajaran agama. (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2001232).

Pola komunikasi merupakan serangkaian dua kata yakni pola dan komunikasi. Kata “pola” dalam kamus besar Bahasa Indonesia artinya bentuk atau sistem, cara atau bentuk (struktur) yang tetap, dapat dikatakan bahwa pola merupakan contoh atau cetakan. Sedangkan istilah komunikasi menurut Onong Uchjana Effendi, berasal dari perkataan bahasa Inggris “Communication” yang bersumber dari bahasa latin “Communicatio” yang berarti pemberitahuan atau pertukaran pikiran. Pola komunikasi adalah suatu cara dalam berkomunikasi atau pertukaran pikiran. Komunikasi berhubungan dengan perilaku manusia dan kepuasan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi dengan manusia-manusia lainnya (Alo Liliweri, 2007: h.56).

Hubungan antara budaya dalam komunikasi sangat penting untuk memahami komunikasi antar budaya, oleh karena itu melalui pengaruh
budaya orang-orang banyak belajar dalam berkomunikasi. Komunikasi Lintas Budaya adalah suatu proses pengiriman pesan yang
dilakukan oleh anggota lainnya dari budaya lain. Pola komunikasi lintas budaya adalah suatu bentuk atau cara dalam berkomunikasi antar dua kebudayaan dalam berinteraksi.

Selain itu, Dakwah lintas budaya merupakan sebuah proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antara da'i dan mad'u. Melalui dakwah lintas budaya menjadikan Islam lebih fleksibel dan mudah diterima di semua lapisan masyarakat, meskipun berbeda sosiokultural, maupun norma. Metode dakwah yang tidak menghapus budaya atau tradisi lama, menjadikan diterimanya ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat.

Dalam kebudayaan agama islam mampu mengakulturasi budaya setempat dengan ajaran-ajaran islam. Sehingga memunculkan adanya istilah Islam Nusantara. Islam Nusantara terdiri dari dua kata, Islam dan Nusantara. Menurut Quraish Shihab, dikutip dari Fathurrahman Karyadi bahwa Islam Nusantara dilihat pada sisi “substansi”, bukan bentuk. Apabila ada bentuk (budaya) yang secara substansi sesuai dengan Islam maka akan diterima, jika bertentangan akan ditolak dan direvisi. Inilah prinsip Islam dalam beradaptasi dengan budaya.

Jadi Islam itu bisa bermacam-macam akibat keragaman budaya setempat. Bahkan adat, kebiasaan dan budaya bisa menjadi salah satu sumber penetapan hukum Islam. “Islam Nusantara datang bukan untuk mengubah doktrin Islam. Ia hanya ingin mencari cara bagaimana melabuhkan Islam dalam konteks budaya masyarakat yang beragam. Islam nusantara bukan sebuah upaya sinkretisme yang memadukan Islam dengan agama Jawa, melainkan kesadaran budaya dalam berdakwah sebagaimana yang telah dilakukan oleh pendahulu kita walisongo".

Islam Nusantara adalah paham dan praktek keislaman di bumi Nusantara sebagai hasil dialektika antara teks syariat dengan realitas dan budaya setempat. (Muhajir dalam Sahal & Aziz, 2015: 67). Islam Nusantara merupakan metodologi dakwah untuk memahamkan dan
menerapkan universalitas (syumuliyah) ajaran Islam sesuai prinsip
-prinsip Ahlussunnah wal jama’ah, dalam suatu model yang telah mengalami proses persentuhan dengan tradisi baik (‘urf shahih) di Nusantara, dalam hal ini wilayah Indonesia, atau merupakan tradisi tidak baik (‘urf fasid) namun sedang dan/atau telah mengalami proses dakwah amputasi, asimilasi, atau minimalisasi, sehingga tidak bertentangan dengan diktum-diktum syari’ah.  Islam Nusantara merupakan Islam yang ramah, terbuka, inklusif dan mampu memberi solusi terhadap masalah-masalah bangsa dan negara (Bizawie dalam Sahal & Aziz, 2015240).

Islam yang dinamis dan bersahabat dengan lingkungan kultu, sub kultu, dan agama yang beragam. Islam bukan hanya dapat diterima masyarakat Nusantara, tetapi juga layak mewarnai budaya Nusantara untuk mewujudkan sifat akomodatifnya, yakni rahmatan li al-‘alamin. Pesan rahmatan li al-‘alamin ini menjiwai karakteristik Islam Nusantara, sebuah wajah yang moderat, toleran, cinta damai, dan menghargai keberagaman (Bizawie dalam Sahal & Aziz, 2015242).

Semenjak awal, Islam Indonesia. Oleh karena itu, Islam Nusantara ini merupakan cara melaksanakan Islam melalui pendekatan kultural, sehingga merawat dan mengembangkan budaya lokal yang sesuai dengan ajaran Islam, dan berusaha mewarnai budaya lokal itu dengan nilai-nilai Islam apabila budaya tersebut masih belum sesuai dengan ajaran Islam. Islam sangat menghargai kreasi-kreasi kebudayaan masyarakat, sehingga tidak menodai prinsip-prinsip kemanusiaan maka akan tetap dipertahankan. Namun, jika budaya itu mencederai martabat kemanusiaan, makaharus ditolak. Islam Nusantara ini tidak menghamba kepada tradisi, akan tetapi kepada tradisi yang menghormati nilai-nilai kemanusiaan yang perlu dipertahankan (Ghazali dalam Sahal & Aziz,
2015113)

Dalam menyampaikan dakwah terdapat salah satu metode yakni fenomenologi. Fenomenologi bukan suatu sistem atau aliran filsafat dan bukan suatu disiplin ilmu. Ponty menyebutkan bahwa fenomenologi sebagai metode pemahaman manusia dengan cara mendeskripsikan pengalaman-pengalaman manusia sebagaimana adanya. Fenomenologi yaitu Ilmu tentang fenomena-fenomena atau apa saja yang tampak filsafat yang berpusat pada analisis terhadap gejala-gejala. Model interaksionis fenomenologis menunjukkan adanya suatu ikatan dari dalam antara masyarakat atau kelompok yang berinteraksi, yang diekspresikan dalam wujud tindakan kepatuhan terhadap norma dan nilai-nilai sosial budaya yang telah disepakati. Model fenomenologis menyangkut kepatuhan, membuktikan adanya kesadaran dalam diri seseorang yang berinteraksi dengan pihak lain secara sukarela.

Pola dakwah interaktif fenomenologis adalah model penyampaian pesan ajaran agama secara dialogis, seorang pendakwah secara terbuka berkomunikasi timbal balik dengan masyarakat sebagai obyek dakwah. Masyarakat secara terbuka dapat menyampaikan masalah-masalah aktual yang mungkin sangat urgen bagi kehidupan dan pendakwah mampu memberikan jawaban untuk memperkuat iman dan taqwanya kepada Allah SWT. Melalui interaksi ini pendakwah dituntut untuk memahami perilaku masyarakat sebagai sasaran dakwah. sehingga tercipta jembatan rasa antara juru dakwah sebagai agent of reformation dengan masyarakat yang menjadi sasaran perubahan atau refomasi. Hal ini dapat menghubungkan komunikasi batin antara pembawa pesan dengan penerima pesan. Adanya sambung rasa akan membuat dakwah lebih mudah diterima oleh masyarakat, dapat lebih dimengerti oleh penerima dakwah. Model ini juga digunakan oleh Rasulullah SAW ketika hijrah ke Madinah dengan mempersatukan kabilah-kabilah di Madinah.

 

KESIMPULAN

Pola komunikasi lintas budaya adalah suatu bentuk atau cara dalam berkomunikasi antar dua kebudayaan dalam berinteraksi. Dalam kebudayaan agama islam mampu mengakulturasi budaya setempat dengan ajaran-ajaran islam. Sehingga memunculkan adanya istilah Islam Nusantara. Islam Nusantara ini merupakan cara melaksanakan Islam melalui pendekatan kultural, sehingga merawat dan mengembangkan budaya lokal yang sesuai dengan ajaran Islam. Pola dakwah interaktif fenomenologis adalah model penyampaian pesan ajaran agama secara dialogis, seorang pendakwah secara terbuka berkomunikasi timbal balik dengan masyarakat sebagai obyek dakwah.

 

REFERENSI

Aripudin, Acep. Dakwah Antarbudaya, (PT. Remaja Rosdakarya: Bandung, 2012).

Rahman, Abd. P. 2014, Peranan dakwah dan komunikasi antarbudaya dalam masyarakat plural, Al-Munzir, Vol.7, No.1

Luthfi, Khabibi Muhammad. 2016, Islam nusantara: relasi islam dan budaya lokal, Shahih, Vol.1, No.1

Qomar, Mujamil. 2015, Islam nusantara: sebuah alternatif model pemikiran, pemahaman dan pengamalan islam, el Harakah, Vol.17 No.2

Soekanto, Soerjono. Kamus Sosiologi, (PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta, 1993).

Narwoko, J. Dwi dan Bagong Suyanto.  Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, (Kencana Prenada Media Group: Jakarta, 2005).

Nasir, Nasrullah. Teori-teori Sosiologi, (Widya Padjadjaran: Bandung, 2009).

 

https://afifahseducation.blogspot.com/2021/05/memahami-berdakwah-dalam-pola.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMAHAMI AKTIVITAS KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA VERBAL DAN NON VERBAL DALAM DAKWAH

MEMAHAMI BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH