MEMAHAMI HAMBATAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM DAKWAH MULTIKULTURAL MODERN


Alo Liliweri dalam bukunya yang berjudul “Dasar- Dasar Komunikasi Antarbudaya”, menjelaskan bahwa komunikasi lintas budaya ini lebih menekankan perbandingan pola-pola komunikasi antarpribadi di antara peserta komunikasi yang berbeda kebudayaan. Tantangan dalam komunikasi antar budaya yaitu perbedaan dan budaya asing, sikap antar kelompok dan pengalaman mengatasi stress.

Hambatan dapat diartikan sebagai halangan atau rintangan yang dialami. Dengan adanya perbedaan antar budaya akan mempengaruhi persepsi, cara berpikir, dan bahasa. Selain itu, terdapat hambatan dalam komunikasi antar budaya seperti, rasilialisme (mengabaikan perbedaan), stereotype (memiliki asumsi bahwa dalam satu kelompok sama), persepsi, Norma dan nilai kebudayaan, etnosentrisme (menilai perbedaan secara negatif), culture shock. Strategi untuk mengatasi hambatan komunikasi lintas budaya paling utama didorong oleh dua hal, yaitu motivasi untuk mengurangi hambataan komunikasi lintas budaya dan motivasi untuk mencari peluang untuk mengembangkan diri.

Adapun faktor hambatan komunikasi antar budaya yang sering terjadi antara lain:

1. Fisik : Hambatan komunikasi yang berasal dari waktu, lingkungan, kebutuhan diri, dan media.

2. Budaya : Hambatan komunikasi yang berasal dari etnis, agama, dan sosial yang berbeda antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya.

3. Persepsi : Hambatan komunikasi yang timbul karena perbedaan persepsi yang dimiliki oleh individu mengenai sesuatu. Perbedaan persepsi menyebabkan perbedan dalam mengartikan atau memaknakan sesuatu.

4. Motivasi : Hambatan komunikasi yang berkaitan dengan tingkat motivasi penerima pesan. Rendahnya tingkat motivasi penerima pesan mengakibatkan komunikasi menjadi terhambat.

5. Pengalaman : Hambatan komunikasi yang disebabkan oleh pengalaman masa lalu yang dimiliki individu. Perbedaan pengalaman yang dimiliki oleh masing-masing individu dapat menyebabkan perbedaan dalam konsep serta persepsi terhadap sesuatu.

6. Emosi : Hambatan komunikasi yang berkaitan dengan emosi atau perasaan pribadi dari pendengar. Apabila emosi pendengar sedang buruk maka hambatan komunikasi yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk dilalui.

7. Bahasa : Hambatan komunikasi yang terjadi ketika pengirim pesan dan penerima pesan menggunakan bahasa atau kata-kata yang tidak dimengerti oleh penerima pesan sehingga menimbulkan ketidaksamaan makna.

8. Nonverbal : Hambatan komunikasi yang berupa isyarat atau gesture.

9. Kompetisi : Hambatan komunikasi yang timbul ketika penerima pesan sedang melakukan kegiatan lain di saat menerima pesan.

 

Cara mengatasi hambatan komunikasi menurut Bovee dan Thill, sebagai berikut:

1. Memelihara komunikasi agar senantiasa terbuka.

2. Bertekad untuk memegang teguh etika dalam berkomunikasi dan menjalannya dengan baik.

3. Memahami akan adanya kesulitan komunikasi antar budaya.

4. Menggunakan pendekatan komunikasi yang berpusat pada penerima pesan.

5. Menggunakan tekonogi yang ada secara bijaksana dan bertanggung jawab agar dapat memperoleh dan membagi informasi dengan baik dan efektif.

6. Menciptakan serta memproses pesan secara efektif dan juga efisien.

 

Dakwah multikultural sejatinya berangkat dari pandangan klasik dakwah kultural, yakni pengakuan Islam terhadap keabsahan eksistensi kultur dan kearifan lokal yang tidak bertentangan dengan prinsip tauhid. Hanya saja dakwah multikultural berangkat lebih jauh dalam hal intensitas atau keluasan cakupan kulturnya. Pendekatan multikulturalisme dalam dakwah berusaha untuk mencapai dua hal, yaitu titik temu dalam keragaman, dan toleransi dalam perbedaan. Dakwah dengan pendekatan multikulturalisme adalah sebuah pemikiran dakwah yang concern pada penyampaian pesan-pesan Islam dalam konteks masyarakat plural dengan cara berdialog untuk mencari titik temu atau kesepakatan terhadap hal-hal yang mungkin disepakati, dan untuk hal-hal yang tidak dapat disepakati. Tantangan dakwah multikultural yakni perbedaan antara norma dan pengamalan agama, agama dan sekularisme (modernisasi), terjadinya konflik antara kelompok transfer dengan kelompok modern.

Strategi dakwah dari pendekatan dakwah terbagi dua yaitu strategi dakwah kultural dan dakwah struktural. Dakwah kultural merupakan salah satu cara yang menjembatani ketegangan agama dengan doktrin budaya yang ada di masyarakat. Pendekatan tersebut diharapkan bisa mewujudkan sikap toleransi, apresiatif dan kesetaraan baik dari sisi bahasa, agama , etnik, budaya dan lainnya. Dakwah secara structural kebanyakan dari lembaga pendidikan dan ormas keagamaan. Secara garis besar tantangan dakwah terdiri dari faktor internal dan eksternal. Dari faktor internal berasal dari da’i/pelaku dakwah; mad’u/ sasaran dakwah, pendekatan dan metode dakwah serta media dakwah. Faktor eksternal bisa diakibatkan oleh lingkungan dan kultur/budaya. Problematika dakwah, antara lain :

1. Pemahaman masyarakat pada umumnya terhadap dakwah lebih diartikan sebagai aktifitas yang bersifat oral communication (tabligh)
sehingga aktifitas dakwah lebih beriontasi pada kegiatan-kegiatan
caramah.

2. Problematika yang bersifat epistemologis. Dakwah pada era
sekarang bukan hanya bersifat rutinitas, temporal dan instan,
melainkan dakwah membutuhkan paradigma keilmuan. Dengan
adanya keilmuan dakwah tentunya hal-hal yang terkait dengan
langkah srategis dan teknis dapat dicari rujukannya melalui teori-
teori dakwah.

3. Problem yang menyangkut sumber daya manusia.

 

Cara mengatasi problematika dakwah, yakni:

1. Memfokuskan aktivitas dakwah untuk mengentaskan kemiskinan
umat.

2. Menyiapkan profil strategis muslim untuk disuplai ke berbagai jalur
kepemimpinan bangsa sesuai dengan bidang keahliannya masing-
masing.

3. Membuat peta sosial umat sebagai sosial umat sebagai informasi awal bagi pengembangan dakwah.

4. Mengintegrasikan wawasan etika, estetika, logika, dan budaya dalam
berbabagi perencanaan dakwah baik secara internal umat maupun
secara eksternal.

5. Mendirikan pusat-pusat studi dan informasi umat secara lebih
profesional dan berorientasi pada kemajuan iptek.

6. Menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan ekonomi, kesehatan, dan
kebudayaan umat Islam
.

 

KESIMPULAN

Hambatan dalam komunikasi antar budaya seperti, rasilialisme (mengabaikan perbedaan), stereotype (memiliki asumsi bahwa dalam satu kelompok sama), persepsi, Norma dan nilai kebudayaan, etnosentrisme (menilai perbedaan secara negatif), culture shock. Pendekatan multikulturalisme dalam dakwah berusaha untuk mencapai dua hal, yaitu titik temu dalam keragaman, dan toleransi dalam perbedaan. Dakwah dengan pendekatan multikulturalisme adalah sebuah pemikiran dakwah yang concern pada penyampaian pesan-pesan Islam dalam konteks masyarakat plural dengan cara berdialog untuk mencari titik temu atau kesepakatan terhadap hal-hal yang mungkin disepakati, dan untuk hal-hal yang tidak dapat disepakati.

 

REFERENSI

Sri Muliani Prasmi, Noorshanti Sumarah, Irmasanthi Danadharta, 2019, Hambatan Komunikasi Lintas Budaya (Mahasiswa Papua di Surabaya), Jurnal Representamen, Vol.5, No.2 

Abdul Azis, Siti Zainab, Nor Muslim, 2018, Tantangan Dakwah pada Masyarakat Multikultural di Kalimantan Tengah, Wardah, Vol.19, No.2

Aibak Kutbuddin, 2016, Strategi Dakwah Multikultur dalam Konteks Indonesia, Jurnal Mawa’izh, Vol.1, No.2,

Abdul Karim, 2015, Komunikasi Antar Budaya di Era Modern, At-TABSYIR, Vol.3, No.2 

Zaprulkhan, 2017, Dakwah Multikultural, Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan, Vol. 8, No. 1

Aminudin, 2015, Dakwah dan Problematikanya dalam Masyarakat Modern, Al-Munzir, Vol. 8, No. 1

 

Link YouTube:

https://www.youtube.com/watch?v=iaxlJw3Zyc4
https://www.youtube.com/watch?v=COIb7bpfdWk
https://www.youtube.com/watch?v=ZwwnRwk6PWA
https://www.youtube.com/watch?v=mxPnJOkzK4g

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMAHAMI BERDAKWAH DALAM POLA KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

MEMAHAMI AKTIVITAS KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA VERBAL DAN NON VERBAL DALAM DAKWAH

MEMAHAMI BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH